Sabtu, 29 Agustus 2026

Pesan untuk diriku hari ini

Sayang, yang kamu lakukan dengan menutup pintu dan menangis itu bukan kamu jahat. Itu kamu sedang berusaha menyelamatkan keadaan. Kamu memilih menjauh daripada melampiaskan amarah. Itu sudah sebuah usaha yang besar sekali. Kalau di posisi itu lagi, tidak apa-apa melakukan ini ya: 1. Amankan dulu, baru tenangkan. Saat rasanya mau meledak, tarik napas panjang lewat hidung, buang pelan lewat mulut. Katakan dalam hati, "Ini cuma 5 menit yang berat, bukan seharian yang buruk." Pastikan anak di tempat yang aman, lalu ambil jeda di kamar seperti yang tadi kamu lakukan. Itu boleh. 2. Tidak harus langsung beres. Ceceran es mambo, bekas pipis, pup itu - biarkan dulu. Tidak akan kemana-mana. Ubi ungu dan jagungmu lebih penting saat itu. Beri dirimu izin untuk berantakan sebentar. 3. Setelah tangis reda, peluk lagi. Kalau sudah agak tenang, buka pintu, peluk mereka. Tidak perlu ceramah panjang. Cukup bilang, "Bunda tadi capek sekali, bunda sedih. Kita coba lagi ya." Kamu tidak sendiri. Menjadi ibu dari dua toddler yang nempel 24 jam itu memang menguras jiwa dan raga. Wajar kalau untuk menikmati sepotong ubi ungu saja rasanya harus berjuang. Hari ini kamu sudah hebat. Kamu sudah ngepel, sikat WC, tetap suapin mereka, dan kamu tetap memilih untuk tidak menyakiti.

Seiris Jagung yang Tertunda

Baru saja selesai ngepel. Lantai masih basah, masih mengkilap. Anakku lewat. Tapak kakinya yang hitam meninggalkan jejak di bekas pel yang baru saja ku bersihkan. Kesal. Tentu saja kesal. Tapi ya sudah, ku pel lagi. Ku ulang pelan-pelan sampai jejak itu hilang. Selesai ngepel, aku lanjut cuci WC. Dua toddlerku tetap mengikutiku sampai ke dalam WC. Aku tidak terlalu pusing menanggapi tingkah mereka. Ku lanjutkan saja menggosok WC, sambil sesekali mendorong dan menggeser kaki-kaki mungil mereka yang menghalangi. Kesalnya itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aku diam. Tidak menanggapi celotehan mereka. Mukaku ku buat datar sebisa mungkin, menahan emosi agar tidak meledak. Turun ke bawah, aku berniat menikmati sepotong jagung rebus. Hanya sepotong, untuk diriku sendiri. Sambil makan, ku dengar celotehan mereka yang masih tidak ku gubris. Mataku fokus pada jagung, tapi melirik tumpahan es mambo di ruang tengah. Tak lama mereka minta dibukakan es mambo. Ku ambil gunting, ku potongkan untuk mereka. Jagung pertamaku bahkan belum habis, si kakak pipis di celana. Dengan sengaja. Aku hanya melirik. Terus melanjutkan makan jagung itu. Tiba-tiba rasanya berubah. Bukan rasa jagung lagi. Seperti ada aroma bawang merah yang naik ke mata. Perih. Ingin menangis, tapi air matanya tidak bisa keluar. Drama es mambo makin luas. Ada yang coklat, ada yang pink. Entah bagaimana cara mereka makan es itu sampai blepotan kemana-mana. Akhirnya aku putuskan ambil potongan ubi jalar, dan duduk di pintu dapur sambil melihat ayam. Kubiarkan saja ceceran es mambo itu. Kubiarkan bekas pipis itu. Sebagai seorang ibu, kejadian seperti ini hampir setiap hari terjadi. Untuk menikmati sepotong makanan pun, harus menahan amarah terlebih dulu. Aku sedang berusaha tidak marah kali ini. Sungguh. Sambil duduk di depan pintu dapur, melihat ayam, ku nikmati potongan ubi ungu. Pelan-pelan. Ini jeda ku. Belum habis potongan ubi itu, si kakak pup di sampingku. Padahal dia sudah bisa, dan sudah belajar pup di WC. Di detik itu rasanya seperti tertindih beban yang sangat berat. Dadaku penuh. Tanganku gemetar, ingin rasanya melampiaskan semuanya ke barang-barang di sekitarku. Lalu aku memilih bangun. Ku tutup pintu kamar. Aku menangis sendirian di dalam. Di luar, anak keduaku menggedor-gedor pintu sambil ikut menangis. Rasanya campur aduk. Aku lelah, sedih, kesal jadi satu. 😤😧😡ðŸ˜