Sabtu, 29 Agustus 2026

Seiris Jagung yang Tertunda

Baru saja selesai ngepel. Lantai masih basah, masih mengkilap. Anakku lewat. Tapak kakinya yang hitam meninggalkan jejak di bekas pel yang baru saja ku bersihkan. Kesal. Tentu saja kesal. Tapi ya sudah, ku pel lagi. Ku ulang pelan-pelan sampai jejak itu hilang. Selesai ngepel, aku lanjut cuci WC. Dua toddlerku tetap mengikutiku sampai ke dalam WC. Aku tidak terlalu pusing menanggapi tingkah mereka. Ku lanjutkan saja menggosok WC, sambil sesekali mendorong dan menggeser kaki-kaki mungil mereka yang menghalangi. Kesalnya itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aku diam. Tidak menanggapi celotehan mereka. Mukaku ku buat datar sebisa mungkin, menahan emosi agar tidak meledak. Turun ke bawah, aku berniat menikmati sepotong jagung rebus. Hanya sepotong, untuk diriku sendiri. Sambil makan, ku dengar celotehan mereka yang masih tidak ku gubris. Mataku fokus pada jagung, tapi melirik tumpahan es mambo di ruang tengah. Tak lama mereka minta dibukakan es mambo. Ku ambil gunting, ku potongkan untuk mereka. Jagung pertamaku bahkan belum habis, si kakak pipis di celana. Dengan sengaja. Aku hanya melirik. Terus melanjutkan makan jagung itu. Tiba-tiba rasanya berubah. Bukan rasa jagung lagi. Seperti ada aroma bawang merah yang naik ke mata. Perih. Ingin menangis, tapi air matanya tidak bisa keluar. Drama es mambo makin luas. Ada yang coklat, ada yang pink. Entah bagaimana cara mereka makan es itu sampai blepotan kemana-mana. Akhirnya aku putuskan ambil potongan ubi jalar, dan duduk di pintu dapur sambil melihat ayam. Kubiarkan saja ceceran es mambo itu. Kubiarkan bekas pipis itu. Sebagai seorang ibu, kejadian seperti ini hampir setiap hari terjadi. Untuk menikmati sepotong makanan pun, harus menahan amarah terlebih dulu. Aku sedang berusaha tidak marah kali ini. Sungguh. Sambil duduk di depan pintu dapur, melihat ayam, ku nikmati potongan ubi ungu. Pelan-pelan. Ini jeda ku. Belum habis potongan ubi itu, si kakak pup di sampingku. Padahal dia sudah bisa, dan sudah belajar pup di WC. Di detik itu rasanya seperti tertindih beban yang sangat berat. Dadaku penuh. Tanganku gemetar, ingin rasanya melampiaskan semuanya ke barang-barang di sekitarku. Lalu aku memilih bangun. Ku tutup pintu kamar. Aku menangis sendirian di dalam. Di luar, anak keduaku menggedor-gedor pintu sambil ikut menangis. Rasanya campur aduk. Aku lelah, sedih, kesal jadi satu. 😤😧😡😠

Tidak ada komentar:

Posting Komentar